JAKARTA – Kasus dugaan korupsi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali memunculkan babak baru. Pengacara senior Elza Syarief resmi mundur dari tim kuasa hukum mantan Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya. Alasannya cukup mengejutkan: kliennya dinilai tidak jujur.
Elza mengaku menerima informasi bahwa Sony diduga menerima uang secara rutin dari Asep Yusuf Somantri (AYS), pihak swasta yang juga telah ditetapkan sebagai tersangka dalam perkara tersebut. Padahal sebelumnya, Sony disebut bersumpah bahwa dirinya bersih dan tidak menerima aliran dana apa pun.
Bagi Elza, ketidakjujuran itu menjadi persoalan serius. Sebab, strategi pembelaan hukum hanya bisa dibangun di atas fakta yang terbuka dan keterangan yang konsisten. Ketika informasi yang diterima pengacara berbeda dengan fakta yang belakangan muncul, kepercayaan pun runtuh.
Tak hanya itu, Elza juga mengaku mengalami kesulitan untuk berkomunikasi langsung dengan kliennya. Ia bahkan menyinggung adanya pihak-pihak tertentu yang dinilai tidak menginginkan dirinya tetap menjadi kuasa hukum karena dikhawatirkan dapat membuka lebih jauh tabir kasus MBG yang tengah diusut Kejaksaan Agung.
Pengunduran diri Elza sekaligus memperkecil peluang Sony memperoleh status justice collaborator (JC). Dalam praktik hukum, salah satu syarat utama untuk mendapatkan status tersebut adalah bersikap jujur, kooperatif, dan membantu aparat penegak hukum membongkar perkara secara terang-benderang.
Kasus MBG sendiri terus menjadi sorotan publik karena menyangkut program strategis nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia. Namun, di tengah misi besar itu, dugaan penyimpangan pengadaan barang dan jasa serta aliran dana mencurigakan justru menimbulkan pertanyaan tentang tata kelola program tersebut.
Mundurnya seorang pengacara karena merasa dibohongi kliennya bukanlah peristiwa biasa. Ini menjadi sinyal bahwa perkara yang sedang diusut kemungkinan menyimpan cerita yang lebih rumit daripada yang tampak di permukaan. Dalam kasus korupsi, kejujuran sering menjadi pintu pembuka untuk mengurai jaringan yang lebih besar. Ketika pintu itu tertutup, kebenaran pun menjadi semakin sulit ditemukan.
Diolah dari berbagai sumber dan ditulis ulang oleh Tim Redaksi RadarIndoMedia.com.