JAKARTA – Dunia kembali dihadapkan pada ancaman krisis energi. Iran resmi menutup Selat Hormuz, jalur laut paling strategis bagi perdagangan minyak global. Dampaknya langsung terasa. Harga minyak dunia melonjak dan pasar internasional mulai bersiap menghadapi gelombang ketidakpastian baru.

Kabar penutupan selat yang menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab itu membuat pelaku pasar bereaksi cepat. Harga minyak Brent melonjak mendekati USD 95 per barel, sementara minyak mentah Amerika Serikat (WTI) bergerak di atas USD 91 per barel. Bahkan sempat terjadi lonjakan lebih tinggi pada awal perdagangan.

Bukan tanpa alasan.

Selat Hormuz selama ini menjadi urat nadi distribusi energi dunia. Sebagian besar ekspor minyak dari kawasan Timur Tengah melewati jalur sempit tersebut. Ketika akses ditutup, pasar langsung membaca satu pesan sederhana: pasokan terancam, harga akan naik.

Keputusan Iran merupakan respons atas serangan militer terbaru Amerika Serikat. Otoritas militer Iran bahkan menyatakan seluruh kapal, termasuk tanker minyak dan kapal komersial, dilarang melintas. Ancaman penembakan terhadap kapal yang mencoba menerobos turut memperkeruh situasi.

Bagi negara-negara pengimpor energi, kondisi ini bukan sekadar isu geopolitik. Ini soal biaya hidup.

Ketika harga minyak naik, efek domino segera bergerak. Ongkos transportasi meningkat. Biaya logistik membengkak. Harga barang berpotensi ikut terdorong naik. Inflasi yang sebelumnya mulai terkendali bisa kembali mendapat tekanan baru.

Indonesia tidak sepenuhnya kebal terhadap guncangan tersebut. Sebagai negara yang masih mengimpor sebagian kebutuhan energi, lonjakan harga minyak dunia berpotensi menambah tekanan terhadap APBN, subsidi energi, hingga harga BBM di dalam negeri.

Sejumlah analis bahkan memperingatkan bahwa jika penutupan berlangsung lama dan distribusi minyak global benar-benar terganggu, harga minyak dapat bergerak menuju level USD 100 per barel atau bahkan lebih tinggi. Dalam skenario ekstrem, harga berpotensi menembus USD 130 per barel.

Kini dunia menunggu langkah berikutnya. Apakah konflik akan mereda melalui jalur diplomasi, atau justru memasuki babak baru yang lebih berisiko?

Yang jelas, ketika Selat Hormuz ditutup, bukan hanya kapal yang berhenti berlayar. Ekonomi dunia ikut menahan napas.

Diolah dari berbagai sumber dan ditulis ulang oleh Tim Redaksi RadarIndoMedia.com

Reporter: Redaksi