JAKARTA – Di era ketika satu unggahan bisa viral dalam hitungan detik dan satu hoaks mampu memicu kegaduhan nasional, pemerintah mengingatkan bahwa menjaga ruang digital tidak bisa dibebankan kepada negara semata. Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengajak generasi muda menjadi duta internet sehat dan berperan aktif menciptakan ruang digital yang aman, beretika, dan bebas dari kejahatan siber.
Ajakan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, konten provokatif, hingga berbagai bentuk kejahatan digital yang semakin masif di media sosial. Menurut Meutya, sebagian besar aktivitas internet berlangsung di ruang privat masyarakat sehingga pengawasan tidak mungkin sepenuhnya dilakukan pemerintah. Karena itu, partisipasi publik, terutama generasi muda, menjadi kunci menjaga kesehatan ekosistem digital.
“Internet itu seperti pisau bermata dua,” kata Meutya. Di satu sisi, teknologi digital membuka akses informasi, pendidikan, ekonomi, dan jejaring sosial. Namun di sisi lain, internet juga menjadi pintu masuk bagi penipuan daring, penyebaran fitnah, perundungan siber, hingga kejahatan digital yang menyasar anak-anak dan remaja.
Peringatan tersebut bukan tanpa alasan. Pemerintah mencatat hampir separuh pengguna internet di Indonesia merupakan anak dan remaja di bawah usia 18 tahun. Kondisi ini menjadikan generasi muda sebagai kelompok yang paling aktif di ruang digital, sekaligus paling rentan terpapar konten negatif, manipulasi informasi, dan eksploitasi data pribadi.
Menkomdigi juga menyoroti fenomena algoritma media sosial yang cenderung mendorong konten kontroversial karena lebih mudah menarik perhatian pengguna. Akibatnya, ruang digital semakin dipenuhi hujatan, kebencian, dan informasi yang belum tentu benar. Jika tidak dibekali literasi digital yang memadai, generasi muda berpotensi menjadi korban sekaligus penyebar informasi menyesatkan.
Bahkan, perkembangan teknologi kini dimanfaatkan jaringan kejahatan untuk memperluas operasi mereka, mulai dari penipuan daring hingga peredaran narkotika melalui media sosial dan platform digital. Fakta ini memperlihatkan bahwa ancaman di internet bukan lagi persoalan masa depan, melainkan sudah hadir di depan mata.
Karena itu, ajakan menjadikan generasi muda sebagai duta internet sehat sejatinya bukan sekadar slogan. Ini adalah panggilan untuk membangun budaya digital yang lebih bertanggung jawab: berani memverifikasi informasi, menolak menyebarkan hoaks, menjaga etika bermedia sosial, dan melindungi data pribadi.
Sebab di zaman ketika satu klik bisa menyebarkan kebaikan maupun kebohongan, masa depan ruang digital Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi, tetapi juga oleh kebijaksanaan para penggunanya. Dan di tangan generasi mudalah, internet sehat itu akan dipertahankan atau justru dibiarkan tenggelam dalam banjir informasi yang tak terkendali.
Diolah dari berbagai sumber dan ditulis ulang oleh Tim Redaksi RadarIndoMedia.com.