JAKARTA — Di tengah situasi ekonomi yang masih menekan masyarakat bawah dan meningkatnya sorotan publik terhadap elite politik, PDI Perjuangan mengumpulkan ribuan kader DPRD dari seluruh Indonesia dalam agenda bimbingan teknis (Bimtek) yang digelar secara regional.

Agenda yang melibatkan hampir 4.000 anggota DPRD itu disebut sebagai upaya memperkuat soliditas partai sekaligus menghidupkan kembali semangat perjuangan kaum Marhaen yang selama ini menjadi identitas ideologis PDIP.

Ketua DPP PDIP, Djarot Saiful Hidayat, menegaskan bahwa kader partai harus tetap berpijak pada kepentingan rakyat kecil, kaum dhuafa, dan kelompok masyarakat yang selama ini merasa terpinggirkan oleh sistem ekonomi maupun politik.

Namun di tengah gaung besar soal Marhaenisme, publik juga mulai menunggu pembuktian nyata di lapangan. Sebab, di berbagai daerah, persoalan kemiskinan, pengangguran, ketimpangan ekonomi hingga pelayanan publik masih menjadi keluhan utama masyarakat.

PDIP tampaknya menyadari bahwa kekuatan partai tidak cukup hanya bertumpu pada sejarah dan romantisme ideologi. Karena itu, konsolidasi besar-besaran terhadap kader legislatif dilakukan untuk memastikan arah perjuangan partai tetap seragam dari pusat hingga daerah.

Dalam kegiatan tersebut, lagu "Bung Karno Bapak Marhaenisme" kembali dikumandangkan sebagai simbol penguatan ideologi kader. Langkah itu disebut sebagai pengingat bahwa politik, menurut ajaran Bung Karno, seharusnya menjadi alat perjuangan rakyat kecil, bukan sekadar perebutan kekuasaan.

Gelaran Bimtek dibagi ke dalam beberapa wilayah karena besarnya jumlah kader legislatif PDIP yang tersebar di seluruh Indonesia. Jakarta menjadi titik awal pelaksanaan, sebelum agenda bergeser ke sejumlah daerah lain termasuk Bali, Medan, hingga kawasan timur Indonesia.

Di tengah dinamika politik nasional pasca-Pemilu, konsolidasi ini juga dibaca sebagai sinyal bahwa PDIP tengah menata ulang kekuatan internalnya. Partai berlambang banteng itu tampak berupaya memastikan mesin politik tetap solid sekaligus menjaga identitas ideologis yang selama ini menjadi pembeda dengan partai lain.

Pertanyaannya kini, apakah semangat Marhaenisme yang kembali digaungkan itu benar-benar akan diterjemahkan menjadi kebijakan yang menyentuh rakyat kecil, atau hanya berhenti sebagai slogan yang kembali diperdengarkan saat konsolidasi politik berlangsung?

Publik menunggu jawabannya, bukan dari panggung pidato, melainkan dari kebijakan yang benar-benar terasa di meja makan masyarakat.

Catatan Redaksi: Artikel ini diolah dan ditulis ulang dari berbagai sumber pemberitaan nasional, materi pernyataan resmi partai, serta hasil kompilasi informasi yang berkembang di ruang publik.

Tim Redaksi Radar Indo Media

Reporter: Redaksi